Gunakan Pencarian Ini

Join disini dulu ya, Like This !!!

×

Powered By Berbagi Ilmu SEO and TUTORIAL BLOGGING

AKAN LEBIH BAIK JIKA ANDA MENDOWNLOAD FILE DALAM BENTUK PDF

Friday, 3 May 2013

Laporan Kimia Analisis Asidi Alkalimetri


Laporan Kimia Analisis Asidi Alkalimetri



Oleh: Arifin Oputu
Mahasiswa Farmasi UNG 2012


BAB I
PENDAHULUAN
I.1  Latar Belakang
Dalam analisis kimia, terdapat beberapa cara yang dapat digunakan untuk menentukan kadar senyawa yang terkandung dalam suatu bahan. Salah satu cara yang dapat digunakan adalah dengan proses titrasi. Titrasi merupakan suatu metode untuk menentukan kadar suatu zat dengan menggunakan zat lain yang sudah diketahui konsentrasinya. Titrasi biasanya dibedakan berdasarkan jenis reaksi yang terlibat di dalam proses titrasi. Dalam titrasi itu sendiri ada bermacam-macam cara yang sering digunakan, salah satunya adalah asidimetri dan alkalimetri.
Asidimetri dan alkalimetri adalah salah satu dari empat golongan utama dalam penggolongan reaksi dalam analisis titrimetri. Asidimetri dan Alkalimetri ini melibatkan titrasi basa bebas atau basa yang terbentuk karena hidrolisis garam yang berasal dari asam lemah dengan suatu asam standar (asidimetri) dan titrasi asam bebas atau asam yang terbentuk dari hidrolisis garam yang berasal dari basa lemah dengan suatu basa standar (alkalimetri). Reaksi-reaksi ini melibatkan bersenyawanya ion hydrogen dan ion hydroksida untuk membentuk air (Basset, 1994).
Asidi alkalimetri sangat perlu untuk dipelajari, karena  titrasi asam basa sangat berguna dalam dunia industri. Contoh penggunaannya adalah dalam bidang pertanian, untuk pembuatan pupuk kalium klorida yang dalam pembentukkannya diperlukan MgO yang dihitung kadarnya sebagai penguji dengan proses titrasi. Dalam industri makanan digunakan untuk penentuan kadar iodium, sakarin, kadar Zn dan Fe dalam tahu yang dibungkus dengan plastik dan dalam industri kosmetika yaitu dalam penentuan kadar zat warna AZO yang berbahaya. Tak hanya itu, titrasi asam basa juga berguna dalam

bidang kefarmasian terutama untuk reaksi-reaksi dalam pembuatan obat yang memerlukan sebuah analisis tersendiri.
Metode analisis dengan volumetri ataupun titrimetri menggunakan prinsip asam basa adalah asidi alkalimetri. Proses ini digunakan dalam perhitungan untuk menentukan kadar suatu zat berdasarkan perhitungan volume dengan larutan standar yang telah diketahui kadarnya dengan tepat. Dalam percobaan ini yang dilakukan adalah titrasi asam yaitu menentukan konsentrasi asam cuka dan asam sitrat dengan menggunakan larutan natrium hidroksida (NaOH) dengan penambahan indikator penolftalen.
I.2     Maksud dan Tujuan Percobaan
I.2.1 Maksud Percobaan
Adapun maksud dari praktikum kali ini adalah untuk mengetahui kadar asam sitrat dan asam asetat dengan menggunakan prinsip asidimetri dan alkalimetri.
I.2.2 Tujuan Percobaan
Adapun tujuan dari praktikum kali ini adalah:
1.  menetapkan kadar asam asetat dan kadar asam sitrat menggunakan prinsip asidi alkalimetri.
2.  Menetapkan pH asam sitrat dan pH asam asetat
I.3  Prinsip Percobaan
Adapun prinsip percobaan pada praktikum kali ini yaitu berdasarkan hasil akhir dari titrasi menggunakan reaksi netralisasi atau reaksi asidi alkalimetri dimana terjadi reaksi antara ion hidrogen yang berasal dari asam dengan ion hidroksida yang berasal dari basa sehingga menghasilkan air yang bersifat netral.



BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
II.1 Teori
Titrasi asam-basa sering disebut asidi-alkalimetri, yaitu titrasi yang menyangkut reaksi dengan asam atau basa, diantaranya asam kuat dengan basa kuat, asam kuat dengan basa lemah, asam lemah dengan basa kuat, asam kuat dengan garam dari asam lemah, dan basa kuat dengan garam dari basa lemah. Asidi-alkalimetri merupakan salah satu metode kimia analisa kuantitatif yang didasarkan pada prinsip titrasi asam-basa. Asidi-alkalimetri berfungsi untuk menentukan kadar asam-basa dalam suatu larutan secara analisa volumetri. Asidimetri dan alkalimetri termasuk reaksi netralisasi yakni reaksi antara ion hidrogen yang berasal dari asam dengan ion hidroksida yang berasal dari basa untuk menghasilkan air yang bersifat netral. Netralisasi dapat juga dikatakan sebagai reaksi antara donor proton (asam) dengan penerima proton (basa).  
   +                                H2O
Asidimetri merupakan penetapan kadar secara kuantitatif terhadap senyawa-senyawa yang bersifat basa dengan menggunakan baku asam, sebaliknya alkalimetri adalah penetapan kadar senyawa-senyawa yang bersifat asam dengan menggunakan baku basa.
Untuk menetapkan titik akhir pada proses netralisasi ini digunakan indikator. Menurut W. Ostwald, indikator adalah suatu senyawa organik kompleks dalam bentuk asam atau dalam bentuk basa yang mampu berada dalam keadaan dua macam bentuk warna yang berbeda dan dapat saling berubah warna dari bentuk satu ke bentuk yang lain ada konsentrasi H+ tertentu atau pada pH tertentu.
Jalannya proses titrasi netralisasi dapat diikuti dengan melihat perubahan pH larutan selama titrasi, yang terpenting adalah perubahan pH pada saat dan di sekitar titik ekuivalen karena hal ini berhubungan erat dengan pemilihan indikator agar kesalahan titrasi sekecil-kecilnya. Larutan asam bila direaksikan dengan larutan basa akan menghasilkan garam dan air. Sifat asam dan sifat basa akan hilang dengan terbentuknya zat baru yang disebut garam yang memiliki sifat berbeda dengan sifat zat asalnya. Karena hasil reaksinya adalah air yang memiliki sifat netral yang artinya jumlah ion H+ sama dengan jumlah ion OH- maka reaksi itu disebut dengan reaksi netralisasi atau penetralan. Pada reaksi penetralan, jumlah asam harus ekivalen dengan jumlah basa. Untuk itu perlu ditentukan titik ekivalen reaksi. Titik ekivalen adalah keadaan dimana jumlah mol asam tepat habis bereaksi dengan jumlah mol basa. Untuk menentukan titik ekivalen pada reaksi asam-basa dapat digunakan indikator asam-basa. Ketepatan pemilihan indikator merupakan syarat keberhasilan dalam menentukan titik ekivalen. Pemilihan indikator didasarkan atas pH larutan hasil reaksi atau garam yang terjadi pada saat titik ekivalen.
Salah satu kegunaan reaksi netralisasi adalah untuk menentukan konsentrasi asam atau basa yang tidak diketahui. Penentuan konsentrasi ini dilakukan dengan titrasi asam-basa. Titrasi adalah cara penentuan konsentrasi suatu larutan dengan volume tertentu dengan menggunakan larutan yang sudah diketahui konsentrasinya. Bila titrasi menyangkut titrasi asam-basa maka disebut dengan titrasi asidi-alkalimetri.
Indikator yang dipakai dalam titrasi asam basa adalah indikator yang perubahan warnanya dipengaruhi oleh pH. Penambahan indikator diusahakan sesedikit mungkin dan umumnya adalah dua hingga tiga tetes. Untuk memperoleh ketepatan hasil titrasi maka titik akhir titrasi dipilih sedekat mungkin dengan titik ekivalen, hal ini dapat dilakukan dengan memilih indiator yang tepat dan sesuai dengan titrasi yang akan dilakukan. Keadaan dimana titrasi dihentikan dengan cara melihat perubahan warna indiator disebut sebagai titik akhir titrasi (Dyah, 2012).
Bila suatu asam dan suatu basa yang masing-masing dalam kuantitas yang ekuivalen secara kimiawi, dicampur akan dihasilkan suatu reaksi penetralan, yang menghasilkan suatu larutan garam dalam air. Larutan ini akan benar-benar netral jika asam dan basa itu sama kuat ; kalau tidak, akan diperoleh larutan asam lemah atau basa lemah. Konsentrasi suatu larutan asam atau basa yang anu (unknown) dapat ditentukan dengan titrasi dengan larutan yang konsentrasinya diketahui. Teknik semacam itu disebut analisis volumetri (Kleinfetter, 1987).
Volumetri adalah cara analisis jumlah berdasarkan pengukuran volume larutan pereaksi berkepekatan tertentu yang direaksikan dengan larutan contoh yang sedang ditetapkan kadarnya. Reaksi dijalankan dengan titrasi, yaitu suatu larutan ditambahkan dari buret sedikit demi sedikit, sampai jumlah zat-zat yang direaksikan tepat menjadi akivalen satu sama lain. Pada saat titran yang ditambahkan tampak telah ekivalen, maka penambahan titran harus dihentikan; saat ini dinamakan titik akhir titrasi. Larutan yang ditambahkan dari buret disebut titran, sedangkan larutan yang ditambah titran itu disebut titrat. Dengan jalan ini, volume atau berat titran dapat diukur dengan secara teliti dan bila konsentrasi juga diketahui, maka jumlah mol titran dapat dihitung. Karena jumlah titrat ekivalen atau sama dengan jumlah titran, maka jumlah mol titrat dapat diketahui pula berdasar persamaan reaksi dan koefisiennya. Perhatikanlah sekali lagi arti ungkapan ”pereaksi telah ekivalen”, yang berarti: telah tepat banyaknya untuk menghabiskan zat yang direaksikan. Titran dan titrat tepat saling menghabiskan; tidak ada kelebihan yang satu maupun yang lain. Ini tidak selalu berarti, bahwa pereaksi dan zat yang direaksikan telah sama banyak, baik volume maupun jumlah gram atau mol-nya. Hal ini jelas, sebab jumlah yang bereaksi ditentukan oleh persamaan reaksi (Harjadi, 1987).
Titrasi adalah proses penentuan banyaknya suatu larutan dengan konsentrasi yang diketahui dan diperlukan untuk bereaksi secara lengkap dengan sejumlah contoh tertentu yang akan di analisis. Prosedur analitis yang melibatkan titrasi dengan larutan-larutan yang konsentrasinya diketahui disebut analisis volumetri. Dalam analisis larutan asam dan basa, titrasi melibatkan pengukuran yang seksama, volume-volume suatu asam dan suatu basa yang tepat saling menetralkan (Keenan, 1998).
Proses titrasi digunakan dalam penentuan analitis banyak, termasuk melibatkan reaksi asam-basa. Indikator adalah zat yang digunakan untuk sinyal ketika titrasi tiba di titik dimana reaktan kimia sama, seperti yang didefinisikan oleh persamaan reaksi. Larutan standar adalah larutan dengan konsentrasi tepat ditentukan. Awalnya konsentrasi larutan standar ditentukan dari jumlah yang ditimbang dari sebuah standar primer, bahkan kimia referensi yang sangat dimurnikan. Larutan standar dapat dibuat dari salah satu dari dua cara (Weiner, 2010):
1.  Standar primer yang ditimbang dengan hati-hati, dilarutkan, dan diencerkan akurat untuk volume yang diketahui. Konsentrasi dapat dihitung dari data.
2.  Larutan dibuat untuk perkiraan konsentrasi dan kemudian dibakukan oleh titrasi kuantitas akurat ditimbang dari standar primer.
Larutan yang dititrasi dalam asidimetri-alkalimetri mengalami perubahan pH. Misalnya bila larutan bersifat asam dititrasi dengan larutan bersifat basa, maka nilai pH larutan mula-mula rendah dan selama titrasi terus menerus naik. Bila pH ini diukur dengan pengukur pH (pH-meter) pada awal titrasi, yakni sebelum ditambah basa dan pada waktu-waktu tertentu setelah titrasi dimulai, maka kalau pH dialurkan lawan volume titran, kita peroleh grafik yang disebut kurva titrasi.
Bila suatu indikator pH kita pergunakan untuk menunjukkan titik akhir titrasi, maka harus dipenuhi syarat-syarat berikut ini:
1.  Indikator harus berubah warna tepat pada saat titran menjadi ekivalen dengan titrat agar tidak terjadi kesalahan titrasi.
2.  Perubahan warna itu harus terjadi dengan mendadak, agar tidak ada keragu-raguan tentang kapan titrasi harus dihentikan atau dilanjutkan.
Untuk memenuhi pernyataan (1), maka trayek indikator harus mencakup pH larutan pada titik ekivalen, atau sangat mendekatinya; untuk memenuhi pernyataan (2), trayek indikator tersebut harus memotong bagian yang sangat curam dari kurva.
Indikator asam basa ialah zat yang dapat berubah warna apabila pH lingkungannya berubah. Misalnya biru bromtimol (bb); dalam larutan asam ia berwarna kuning, tetapi dalam lingkungan basa warnanya biru. Warna dalam keadaan asam dinamakan warna asam dari indikator (kuning untuk bb), sedang warna yang ditunjukkan dalam keadaan basa disebut warna basa. Akan tetapi harus dimengerti, bahwa asam dan basa disini tidak berarti pH kurang atau lebih dari tujuh. Asam berarti pH lebih rendah dan basa berarti pH lebih besar dari trayek indikator atau trayek perubahan warna yang bersangkutan. Perubahan warna disebabkan oleh resonansi isomer elektron. Berbagai indikator mempunyai tetapan ionisasi yang berbeda dan akibatnya mereka menunjukkan warna pada range pH yang berbeda (Khopkar. 2003)
II.2.   Uraian Bahan
II.2.1 Alkohol (FI III: 63; HPE ed V: 41)
   Nama resmi                   : Aethanolum
   Nama Lain                    : Etanol
   RM/BM                           :  C2H6O / 46,07
   Pemerian                       :  Cairan tidak berwarna,mudah menguap, bau khas.
   Kelarutan                  :  Bercampur dengan air, praktis bercampur dengan pelarut organik.
   Penyimpanan               : Dalam wadah tertutup rapat.
   Khasiat                          :  Zat tambahan
II.2.2 Aqua Destilata (FI III: 96; HPE ed V: 825)
   Nama resmi                   : Aqua destilata
   Nama Lain                    : Air suling
   RM/BM                           :  H2O/18,02
       Pemerian                       :  Cairan jernih tidak berwarna, tidak berbau; tidak mempunyai rasa.
   Penyimpanan               : Dalam wadah tertutup baik.
   Khasiat                          :  Zat tambahan
II.2.3 Asam asetat (FI IV: 45; HPE ed V: 29)
   Nama resmi                   :  Acidum Aceticum
   Sinonim                         :  Asam asetat
   RM/BM                           :  C2H4O2 / 60,05
   Pemerian                       :  Cairan jernih, tidak berwarna ; bau khas, menusuk; rasa asam yang tajam.
   Kelarutan                      :  Dapat bercampur dengan air, dan denga gliserol.
   Khasiat                          : Sampel
   Kegunaan                     : Sampel
   Penyimpanan               : Dalam wadah tertutup rapat
II.2.4 Asam sitrat (FI IV: 48; HPE ed V: 208)
   Nama resmi                   :  Acidum Citricum
   Sinonim                         :  Asam sitrat
   RM/BM                           :  C6H8O7. H2O / 210,14
   Pemerian                       :  Hablur bening, tidak berwarna atau serbuk hablur granul sampai halus, putih; tidak berbau atau praktis tidak berbau; rasa sangat asam. Bentuk hidrat dalam udara kering.
   Kelarutan                      :  Sangat mudah larut dalam air; mudah larut dalam etanol, agak sukar larut dalam eter.
   Khasiat                          :  Sampel
   Kegunaan                     :  Sampel
   Penyimpanan               :  Dalam wadah tertutup baik
II.2.5 Fenolftalein (FI IV: 662; British Pharmacopoeia: 4650)
   Nama resmi                   : Phenolphthaleinum
   Sinonim                         : Fenolftalein
   RM/BM                           : C20H14O4 / 318,33
   Pemerian                       :  Serbuk hablur, putih atau putih kekuningan lemah; tidak berbau; stabil diudara.
   Kelarutan                      :  Praktis tidak larut dalam air; larut dalam etanol; agak sukar larut dalam etanol.
   Khasiat                          : Indikator
   Kegunaan                     : Indikator
   Penyimpanan               : dalam wadah tertutup baik.
II.2.6 Kalium biftalat (FI III: 686)
   Nama resmi                   :  Kalium hidrogenftalat 
   Nama lain                      :  Kalium biftalat
http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/e/ea/Potassium-hydrogen-phthalate-2D-skeletal.png/120px-Potassium-hydrogen-phthalate-2D-skeletal.png   RM/BM                           :  CO2H.C6H4.CO2K/204,2 
   Pemerian                       :  Serbuk hablur, putih tidak berwarna
   Kelarutan                      :  Larut perlahan-lahan dalam air, larutan jernih
   Khasiat                          :  Larutan baku primer
   Kegunaan                     :  Larutan baku primer
   Penyimpanan               :  Dalam wadah tertutup baik
II.2.7 Natrium hidroksida ( FI IV: 589 )
   Nama resmi                   :  Natrii Hydroxidum
   Sinonim                         : Natrium hidroksida
   RM/BM                           : NaOH / 40,00
   Pemerian                       :  Putih atau praktis putih, massa  melebur, berbentuk pelet, serpihan atau batang atau bentuk lain. Keras, rapuh dan menunjukan pecahan hablur. Bila dibiarkan diudarah akan cepat menyerap karbon dioksida dan lembab.
   Kelarutan                      :  Mudah larutdalam air dan etanol.
   Khasiat                          :  Pelarut      
   Kegunaan                     :  Zat tambahan
   Penyimpanan               :  Dalam wadah tertutup rapat.

BAB III
METODE KERJA
III.1      Alat dan Bahan
III.1.1  Alat
1.      Batang pengaduk
2.      Botol  100 mL
3.      Buret
4.      Gelas ukur
5.      Gelas kimia
6.      Kaca arloji
7.      Kertas perkamen
8.      Labu erlenmeyer
9.      Neraca analitik
10.   Pipet tetes
11.   Satif dan klem
III.1.2  Bahan
1.      Alkohol (C2H6O)
2.      Aluminium foil
3.      Aquadest (H2O)
4.      Asam asetat (C2H4O2)
5.      Asam sitrat (C6H8OH)
6.      Kalium biftalat (CO2.C6H4.CO2K)
7.      Natrium Hidroksida (NaOH)
III.2      Cara Kerja
III.2.1  Pembuatan Air Bebas CO2
1.      Disiapkan alat dan bahan yang digunakan
2.      Diukur air sebanyak 500 mL
3.      Ditempatkan pada gelas kimia
4.      Dipanaskan menggunakan kompor listrik selama 15 menit dan tutup dengan aluminium foil
5.      Didiamkan hingga dingin
III.2.2  Pembuatan Larutan NaOH
1.      Disiapkan alat dan bahan
2.      Ditimbang saksama 20 g NaOH
3.      Dilarutkan dengan 500 mL air bebas CO2
4.      Diaduk homogen
III.2.3  Pembakuan NaOH 1N dan Kalium Biftalat
1.      Disiapkan alat dan bahan
2.      Ditimbang saksama kalium biftalat 0,3 g
3.      Dikeringkan pada oven dengan suhu 1500C kurang lebih 30 menit
4.      Dilarutkan kalium biftalat dalam 75 mL air bebas CO2
5.      Diaduk hingga larut dan homogen
6.      Dipipet sebanyak 3 mL larutan kalium biftalat dalam erlemeyer
7.      Dititrasi dengan NaOH menggunakan indikator fenoftalin sebanyak 3 tetes sampai terbentuk larutan baku NaOH 1N yang ditandai dengan perubahan warna menjadi merah bata.
III.2.4  Pembuatan Larutan Asam Sitrat
1.      Ditimbang sebanyak 300 mg
2.      Dimasukan kedalam labu yang sudah ditara
3.      Dilarutkan dalam 100 mL air bebas CO2
4.      Diaduk hingga larut dan homogen
5.      Dipipet sebanyak 20 mL kedalam erlenmeyer
6.      Ditetesi indikator fenoftalein sebanyak 3 tetes
7.      Ditetesi dengan NaOH 1N smapai terjadi perubahan warna
III.2.5  Pembuatan Larutan Asam Asetat
1.      Diukur sebanyak 20 mL
2.      Dimasukan kedalam labu yang sudah ditara
3.      Dilarutkan kedalam 20 mL air bebas CO2
4.      Diaduk hingga larut dan homogen
5.      Dipipet sebanyak 20 mL kedalam erlenmeyer
6.      Ditetesi indikator fenoftalein sebanyak 3 tetes
7.      Ditetesi dengan NaOH 1N smapai terjadi perubahan warna      
BAB IV
HASIL PENGAMATAN
IV.1     Tabel Hasil Pengamatan
IV.1.1  Penentuan Kadar Asam Sitrat



Vol.titran (mL)



sampel
Vol.titran
V 1
V 2
X
Indikator
Perubahan warna
As.sitrat
50 mL
5,7 mL
6 mL
5,9 mL
Fenolftalein
Bening keunguan muda

IV.1.2  Penentun Kadar Asam Asetat



Vol.titran (mL)



Sampel
Vol.titran
V 1
V 2
X
Indikator
Perubahan warna
As.asetat
50 mL
33,3 mL
25,5 mL
29,4 mL
Fenolftalein
Bening keunguan muda

IV.2     Perhitungan
IV.2.1 Penentuan Kadar Asam Sitrat
a.    % kadar asam sitrat
Dik :  m             = 300 mg
          Vtitran           = 2 mL
          N              = 1
          Valensi   = 3
          BM           = 192,12
          BE           = 192,12/3     = 64,04
Dit : % b/b asam sitrat = ...?
            Penyelesaian:   % b/b = Ntitran x Vtitran x BEtitran x 100%
                         mg titran
% b/b  = 1N x 2 mL x 64,04 x 100% 
                                300 mg
                     = 42,69%
b.    pH asam sitrat
Asam sitrat adalah asam lemah sehingga perhitungan pH menjadi :
Dik : Ka   = 7,1 x 10-4
          m    = 0,3 g
          Mr   = 192,12
          V    = 3 mL = 0,003 L
            Dit : pH   = ...?
            Penyelesaian :
                 M  = g / Mr / V
                      = 0,3 / 192,12 / 0,003
                      = 0,52 M
        [H+] =
= -4 x 0,52
=-4
= 1,92 .10-2
                               pH = -log [H+]
                                      = -log 1,92 x 10-2
                                      = 1,7
            Jadi, pH asam sitrat adalah 1,7
IV.2.2 Penentuan Kadar Asam Cuka
a.    % kadar asam cuka
Dik : Vtitran         = 29,4 mL
BM          = 60
N             = 1
Valensi = 1
BE           = BM/V   =  60/1  = 60
V                         = 20 mL
Dit : % b/v asam asetat =...?
Penyelesaian :
%b/v      = Vtitran x Ntitran x BEtitran x 100%
                                                                                mL x 1000
%b/v     = 1 N x 29,4 mL x 60 x 100%
                                                                20 mL x 1000
                                    = 8,82%
b.     pH asam asetat
       Dik : Ka           = 1,8.10-5
                     m            = 20 mL = 0,02 L
                     Mr          = 60
                     V            = 20 mL = 0,02 L
            Dit  : pH asam asetat =...?
            Penyelesaian :
              M    = g / Mr / V
                     = 0,02 / 60 / 0,02
                     = 0,016 M
            [H+]   =
                     = -5 x 0,016 N
                     = -5 x 1,6 x 10-3 N
                     = 1,7 x 10-4
              pH = -log [H+]
                     = -log (1,7 x 10-4)
                     = 2,3
Jadi, pH asam asetat adalah 2,3
IV.3     Reaksi-reaksi
IV.3.1 Reaksi Kalium Biftalat Dengan Natrium Hidroksida
                                    Reaksi antara kalium biftalat dengan natrium hidroksida adalah sebagai berikut:
CO2H.C6H4.CO2K + NaOH             C6H4O2.CO.NaOK + H2O
IV.3.2 Reaksi Asam Asetat Dengan Natrium Hidroksida
            Reaksi antara asam asetat (CH3COOH) dengan natrium hidroksida menghasilkan garam dan air yang bersifat netral, sesuai dengan reaksi di bawah ini:
CH3COOH + NaOH                         CH3COONa + H2O
IV.3.3 Reaksi Asam Sitrat Dengan Natrium Hidroksida
            Reaksi antara asam sitrat (C6H8O7) dengan natrium hidroksida (NaOH) dapat dilihat seperti reaksi di bawah ini :
C6H8O7  + NaOH                   C6H7O7Na + H2O


BAB V
PEMBAHASAN
Pada praktikum ini dilakukan percobaan titrasi asidimetri dan alkalimetri untuk menentukan kadar asam sitrat dengan natrium hidroksida dan asam asetat dengan natrium hidroksida.
V.1    Pembakuan Natrium Hiroksida 1N dengan Kalium Biftalat
Sebelum penentuan pembuatan dan pembakuan Natrium Hidroksida 1N, terlebih dahulu dibuat air bebas Karbon dioksida dengan cara memanaskan 500 mL air pada kompor listrik selama 15 menit dan ditutup menggunakan aluminium foil. Setelah air dipanaskan hingga 15 menit, kemudian air didinginkan.
Setelah pembuatan air bebas karbon dioksida, dilanjutkan dengan percobaan pembuatan dan pembakuan larutan NaOH 1N dengan kalium biftalat. Sebelum pembakuan, dibuat larutan NaOH dengan cara melarutkan 20 g NaOH kedalam 500 mL air bebas CO2. Tujuan dari penggunaan air bebas CO2 karena di dalam air, CO2 dapat bereaksi dengan air menjadi H2CO3 sehingga titrasi yang dilakukan menjadi tidak tepat lagi (Primandaru Widjaya, 2009).
Setelah pembuatan larutan NaOH, dilanjutkan dengan pembakuan larutan NaOH 1N diawali dengan proses pengeringan 0,3 g kalium biftalat kedalam oven dengan suhu 150ºC ± 30 menit yang kemudian dilarutkan kedalam 75 mL air bebas CO2. Adapun tujuan pengeringan adalah untuk menghilangkan kadar H2O dan zat yang mudah menguap (Ecko, 2012). Setelah larut dan homogen, sebanyak 3 mL larutan kalium biftalat dimasukan kedalam erlenmeyer kemudian ditambahkan 3 tetes indikator phenolphthalein dan dititrasi dengan larutan NaOH. Dari percobaan ini terbentuk larutan baku NaOH 1N yang ditandai dengan perubahan warna pada larutan menjadi merah bata. Adapun tujuan dari penambahan indikator PP adalah untuk mengetahui titik akhir titrasi yaitu berupa perubahan warna maupun endapan (Djibran, 2012).
V.2    Penetapan Kadar Asam Sitrat
Percobaan yang selanjutnya adalah titrasi asam sitrat (C6H8O7). Dimana pada percobaan ini digunakan larutan asam sitrat yang dibuat dengan cara melarutkan 300 g asam sitrat kedalam 100 mL air bebas CO2. Setelah larut dan homogen, dimasukan sebanyak 20 mL kedalam erlenmeyer dan ditambahkan dengan dengan indikator phenolphthalein sebanyak 3 tetes, kemudian dititrasi dengan larutan NaOH. Indikator ini dipilih karena ada asam lemah dan basa kuat yang digunakan dalam proses titrasi. Pada larutan asam indikator ini tidak berwarna, sedangkan pada larutan basa akan memberikan warna merah (Ahmad, 2012).  Adapun tujuan dari penambahan indikator PP adalah untuk mengetahui titik akhir titrasi yaitu berupa perubahan warna maupun endapan (Djibran, 2012). Perubahan yang terjadi pada larutan asam sitrat setelah dititrasi dengan larutan NaOH adalah perubahan warna larutan yang semula berwarna bening berubah menjadi warna ungu muda. Perubahan warna ini terjadi akibat penambahan titran natrium hidroksida (NaOH) pada sampel yang membuat larutan mengalami perubahan warna menjadi ungu muda. Dapat dikatakan bahwa, larutan telah memiliki pH di atas 7 (Restu, 2012).
Untuk mendapatkan data yang lebih akurat, percobaan ini diulang kembali dengan langkah seperti pada percobaan yang pertama. Pada percobaan kedua ini dihasilkan warna yang sama dengan percobaan pertama yakni warna ungu muda, tetapi jika pada percobaan yang pertama larutan NaOH yang terpakai sebanyak 3 mL, pada percobaan kedua larutan NaOH yang terpakai sebanyak 1 mL, sehingga jika dirata-ratakan jumlah NaOH yang terpakai pada percobaan yang pertama dan kedua adalah 2 mL.
V.5    Penetapan Kadar Asam Asetat
Percobaan yang terakhir adalah titrasi asam asetat. Cara kerja pada percobaan ini sama dengan percobaan titrasi asam sitrat. Namun pada percobaan ini larutan yang digunakan adalah larutan asam asetat sebanyak 20 mL yang dilarutkan kedalam 20 mL air bebas CO2. Untuk perlakuannyapun sama dengan percobaan titrasi asam asetat yakni menggunakan indikator phenolphthalein sebanyak 3 tetes dan dititrasi menggunakan larutan NaOH. Adapun warna yang dihasilkan pada percobaan ini adalah warna ungu muda, tetapi untuk jumlah dari titran yang terpakai untuk percobaan yang pertama 33 mL. Untuk keakuratan data, percobaan ini diulang kembali dengan menggunakan titran yang sama. Titran yang terpakai pada percobaan kedua sebanyak 25 mL, sehingga jika dirata-ratakan antara percobaan pertama dan kedua, jumlah titran yang terpakai adalah 29 mL. Penambahan titran natrium hidroksida (NaOH) membuat larutan mengalami perubahan warna menjadi merah muda. Dapat dikatakan bahwa, larutan telah memiliki pH di atas 7 (Restu, 2012).
Berdasarkan banyaknya titran NaOH yang digunakan untuk menghasilkan perubahan warna pada kedua larutan asam tersebut, untuk larutan asam asetat rata-rata titran NaOH yang terpakai adalah  lebih banyak 29 mL, sedangkan untuk larutan asam sitrat yakni rata-rata titran NaOH yang terpakai adalah 2 mL. Jika dibandingkan antara keduanya, ternyata larutan asam asetat membutukan banyak titran untuk menghasilkan perubahan warna. Hal ini disebabkan oleh tingginya kadar asam yang terdapat pada asam asetat sehingga dalam penambahan larutan yang bersifat basa yang dalam hal ini adalah natrium hidroksida, dibutuhkan larutan dalam volume besar untuk penyetaraan kadar asam dan basah atau untuk pencapaian titik ekuivalen (Taher, 2013).


BAB VI
PENUTUP
VI.1. Kesimpulan
Berdasarkan praktikum yang telah di lakukan sebelumnya, maka dapat disimpulkan bahwa:
1.    Dengan menggunakan prinsip asidimetri dan alkalimetri, dapat ditetapkan kadar dari asam sitrat adalah 42,69%, sedangkan untuk asam asetat adalah 8,82%.
2.    Adapun nilai pH dari asam asetat adalah 2,3 sedangkan asam sitrat adalah 1,7.
VI.2. Saran
Adapun saran yang dapat kami sampaikan adalah sebagai berikut:
1.     Untuk praktikan
Diharapkan kepada praktikan agar lebih teliti lagi dalam melakukan praktikum, karena apabila terjadi sedikit saja kesalahan akan berakibat pada hasil akhir titrasi.
2.     Untuk laboratorium:
Kepada pengelola laboratorium agar supaya dapat melengkapi peralatan yang digunakan dalam proses praktikum, karena salah satu faktor yang menetukan berhasil tidaknya praktikum bergantung pada sediaan alat dalam laboratorium.



DAFTAR PUSTAKA
APhA. 2006. Handbook of Pharmaceutical Excipients. Pharmaceutical Press: London
Departmen of Health. 2009. British Pharmacopoeia. Medicines and Healthcare products Regulatory Agency: London
Dirjen POM. 1979. Farmakope Indonesia Edisi III. Departemen kesehatan RI: Jakarta
Dirjen POM. 1995. Farmakope Indonesia Edisi IV. Departemen kesehatan RI: Jakarta
Djibran. 2012. Titrasi Argentomerti (Online) (http://alandjibran.blogspot. com/2012/01/titrasi-argentometri.html, diakses: 19 April 2013, 15:45 WITA)
Dyah, P. 2012. Asidi Alkalimetri. Universitas Islam Negeri Gunung Jati: Bandung
Ecko. 2012. Gravimetri. (Online) (http://eckho.webs.com/ddka.htm. diakses: 24 April 2013, 21:35 WITA)
Harjadi, W. 1987. Ilmu Kimia Analitik Dasar. PT. Gramedia: Jakarta
Keenan, Charles W. 1980. Ilmu Kimia untuk Universitas. Edisi VI.  422. Erlangga: Jakarta
Khopkar, S.M. 2003. Konsep Dasar Kimia Analitik. Universitas Indonesia:  Jakarta

Restu. 2012. Titrasi Asidimetri dan Alkalimetri (Online) (http://restuossapu tra.blogspot.com/2012/11/laporan-titrasi-asidimetri-dan.html, diakses: 19 April 2013, 15:40 WITA)

Sastrohamidjojo, Hardjono. 2005. Kimia Dasar. Gajah Mada Universitas Press: Jogjakarta

Taher. 2013. Penentuan Kadar Asam dengan Metode titrasi asam basa. (Online) (http://chemist-try.blogspot.com/2013/01/penentuan-kadar-asam-dengan-metode.html. diakses: 24 April 2013, 21:27 WITA)

Weiner, Susan A. 2010. Introduction to Chemical Principles 7 th edition 268. Cengage Learning: USA

Widjaya, P. 2009. Penentuan kadar Karbonat dan Hidrogen Karbonat melalui Titrasi Asam Basah. ITB: Bandung

Rancangan Usaha Sirup Herbal Jahe


Oleh: Suyadi
Mahasiswa Farmasi UNG 2012
Bagian 1  :
·         Analisis Produk
Di sini saya akan membuat rancangan usaha mengenai “Sirup Herbal” terutama sirup herbal dengan bahan baku Jahe, Adapun alasan saya memilih jahe sebagai bahan baku adalah karena jahe merupakan salah satu jenis tanaman yang memiliki banyak khasiat, menurut berbagai penelitian dan buku pedoman  yang pernah kami baca, selain di gunakan sebagai rempah-rempah secara empiris jahe juga biasa digunakan sebagai obat masuk angin, gangguan pencernaan, sebagai analgesik, antipiretik, anti-inflamasi, dan juga mempunyai aktifitas antiemetik yang dapat mencegah terjadinya mabuk perjalanan serta masih banyak lagi khasiat dan kegunaan jahe lainnya yang membuat saya tertarik untuk menjadikan tanaman ini sebagai bahan baku dalam pembuatan produk saya, alasan saya selanjutnya adalah saya ingin memanfaatkan potensi alam yang ada di sekitar saya, sebagai masyarakat yang tinggal di daerah tropis,maka jahe akan lebih mudah untuk bisa hidup pada daerah ini,sehingga bahan baku yang akan digunakan dalam pembuatan produk saya bisa terus tersedia, adapun alasan saya membuat produk dalam bentuk sediaan sirup adalah karena sirup merupakan jenis produk yang dapat digunakan dan disukai oleh semua kalangan baik itu anak-anak maupu orang dewasa, sehingga produk yang saya buat manfaatnya bisa mencakup semua kalangan, adapun alasan lain yang membuat saya tertarik untuk membuat produk dalam bentuk sirup adalah, karena selama ini saya sering melihat banyak orang yang bosan atau tidak suka dengan produk herbal lainnya seperti jamu.     
·         Analisis Tempat
            Di dalam pembuatan produk saya ini, saya akan membuatnya di sekitar tempat tinggal saya, adapun alasan saya memilih tempat tersebut adalah agar saya bisa melihat dan mengkoordinir langsung bagaimana proses produksinya dari awal pembuatan produk sampai dengan proses akhir pembuatan produk tersebut, sehingga tingkat keamanan dan kemungkinan kesalahan dalam pembuatan produk ini bisa dipastikan, selain itu di desa saya masih banyak tempat dan pekarangan yang masih kosong, sehingga saya dapat menggunakan tempat tersebut untuk menanam jahe, yang akan digunakan untuk membuat produk saya.
            Adapun dalam proses pemasaran saya akan memilih dua tempat yaitu di tempat yang dekat dengan pusat keramaian dan juga di daerah bagian pesisir yang dekat dengan pemukiman para nelayan, alasan saya memilih memasarkan produk saya pada kedua tempat ini adalah, karena pada tempat yang dekat  dengan pusat keramaian saya akan  lebih mudah untuk memperkenalkan produk saya kepada konsumen, sehinngga produk yang saya buat bisa lebih dikenal dan nantinya konsumen akan membeli produk saya, adapun  alasan saya memilih daerah yang dekat dengan pemukiman para nelayan adalah karena salah satu fungsi dari produk saya ini adalah sebagai obat untuk masuk angin, sehingga para nelayan yang akan pergi melaut dapat menggunakan produk saya ini,untuk mencegah masuk angin pada saat melaut.

·         Analisis Harga
            Di dalam menentukan harga saya mematok harga Rp 15.000 /botol, hal ini sesuai dengan perhitungan biaya  yang saya keluarkan, mulai dari  proses produksi sampai dengan proses pemasaran produk saya tersebut ,adapun pengeluaran yang saya lakukan selama proses pembuatan produk saya adalah :
1  Biaya budidaya jahe
a.       Sewa lahan: Rp 800.000,00
b.      Pengadaan bibit jahe:Rp 100.000,00
c.       Perawatan dan peyiraman selama 6 bulan: Rp 300.000,00
d.      Biaya pemasangan pagar pembatas :Rp 100.000,00
Total :Rp 1.300.000,00
               2   Biaya pembelian alat
a.       Kompor minyak tanah 2 buah :Rp 200.000,00
b.      Baskom besar 4 buah  :Rp 200.000,00
c.       Parutan 5 buah :Rp 100.000,00
d.      Belangan besar :Rp 200.000,00
e.       Celemek 6 buah : Rp 200.000,00
Total: Rp1.200.000,00
3    Biaya pembelian bahan
a.       Gula pasir selama 6 bulan 40 kg :Rp 480.000,00
b.      Esens rasa buah : Rp 200.000,00
c.       Natrium benzoate :Rp 200.000,00
d.      Penguat rasa :Rp 100.000,00
e.       Sirup glukosa :Rp 200.000,00
Total: Rp 1.180.000,00
4     Biaya pembuatan kemasan selam 6 bulan
a.       Botol untuk menyimpan produk: Rp 1.500.000,00
b.      Stiker kemasan :Rp 500.000,00
Total :Rp 2.000.000,00
               5     Biaya pembelian bahan bakar selama 6 bulan
a.       Minyak tanah :Rp 400.000,00
               6     Biaya transport dan komunikasi: Rp 400.000,00

              Biaya Total
1.      Biaya budi daya jahe :Rp 1.300.000,00
2.      Biaya pembelian alat :Rp 900.000,00
3.      Biaya pembelian bahan :Rp 1.180.000,00
4.      Biaya pembuatan kemasan : Rp 2.000.000,00
5.      Biaya pembelian bahan bakar : Rp 400.000,00
6.      Biaya transport dan komunikasi :Rp 400.000,00
Jumlah : Rp 4.380.000,00

              Perkiraan Hasil Penjualan Permen
              Bulan 1
a.     Gula pasir 8 kg :Rp 96.000,00
b. Sirup glukosa :Rp 40.000,00
c.     Natrium Benzoat : Rp 30.000,00
d.       Esens buah :Rp 30.000,00
e.     Penguat rasa :Rp 40.000,00
f.     Bahan lain : Rp 30.000,00
Jumlah Rp 266.000,00
             Pendapatan yang diperoleh bulan 1(30 botol sirup):
             30 botol sirup × Rp 15.000,00 =Rp 450.000,00
             Keuntungan bulan 1= Hasil pendapatan- modal 1
                                                 =Rp 450.000,00- Rp266.000,00
                                                 =Rp 184.000,00
            Untuk pendapatan bulan 2 sampai bulan 6 akan memperoleh jumlah yang sama dengan bulan 1, jika usaha ini suda berjalan,benar-benar bis di terima masyarakat, jumlah produksinya besar, dan dengan berbagai inovasi baru, maka tidak menutup kemungkinan usaha ini akan menghasilkan laba yang sangat besar.                  
·         Promosi
Mengenai promosi atau pengenalan produk, di sini kami lebih menggunakan metode untuk langsung bersosisalisasi dengan masyarakat, sehingga masyarakat sebagai konsumen, bisa mengenal keunggulan dan juga khasiat dari produk kami,selain itu kami juga akan membuat stiker untuk promosi sehingga masyarakat yang jauh dari pusat keramaian juga bisa mendapatkan informasi mengenai produk kami.

Bagian 2:
·         Analisis Operasional
Untuk menekan biaya produksi yang digunakan maka saya, memilih keluarga, dan orang-orang terdekat saya untuk membantu bekerja mengembangkan usaha saya, sehingga dalam proses produksi dan pemasaran produk ini,saya tidak akan mengalami banyak kesulitan, adapun mengenai operasional dan  pemasaran hasil produksi kami, kami akan memasarkannya deengan cara menitipkannya di warung dan toko-toko didaerah saya, tepatnya di Daerah Kabupaten Buol, Sulawesi tengah.

·         Desain Produk
Untuk lebih menarik dan memikat minat konsumen untuk membeli produk saya, maka selain dengan harga produk yang dapat di jangkau oleh semua kalangan masyarakat, saya juga berusaha untuk melakukan  inovasi dengan cara membuat produk dengan berbagai ukuran, seperti produk dengan isi 300mL, 600 mL, 1000 mL,dan juga 1200 mL, dan juga saya akan membuat stiker untuk kemesan produk saya sehingga dapat menarik perhatian dari konsumen, dan apabila produk saya ini sudah berkembang dengan baik, maka saya juga akan membuat berbagai produk olahan lainnya yang berasal dari jahe, seperti selai jahe, manisan jahe, permen jahe dan juga dodol jahe.

·         Proses produksi
Adapun proses pembuatan/produksi produk kami ini adalah:
1.      Menyiapkan alat dan bahan
2.      Mencuci tanaman jahe sampai benar-benar bersih
3.      Memarut jahe tersebut sampai halus
4.      Mengambil ekstrak jahe,dan menyaringnya
5.      Kemudian memasukkan sari buah jahe tersebut kedalam baskom
6.      Setelah itu kita memasak gula, air dan jahe
7.      Kemudian menambahkan essence dan natrium benzoate  
8.      Kemudian di masak hingga mendidih

Bagian 3:
·         Analisis peluang pasar dan pesaing
Didalam dunia usaha kita pasti tidak akan terlepas dari yang namanya persaingan, oleh karena itu untuk dapat mensiasati hal tersebut, maka sebagai seorang wirausaha kita harus pandai membaca peluang pasar yang ada,dengan cara mengetahui keinginan konsumen, hal yang paling penting adalah sebagai seorang wirausahawan kita harus mampu, mengetahui apa keunggulan dan kelemahan dari produk kita, sebab dengan mengetahui keunggulan dan kelemahan produk kita,maka secara otomatis kita akan mampu untuk mencari solusi, agar bagaimana usaha kita bisa bertahan dan tidak sampai gulung tikar, contohnya adalah apabila kekurangan dari produk saya ini adalah pada bagian pemasaran,maka saya harus memiliki sesuatu yang akan membuat konsumen tertarik seperti pada khasiatnya, pelayanan konsumen, dan hal-hal lainnya yang bisa membuat konsumen senang dengan produk kita.
                                                                                    
·         Prospek Usaha
            Dilihat dari segi ekonomis,usaha pembuatan sirup herbal dari jahe ini memiliki prospek usaha yang sangat besar dan menjanjikan, karena produk ini tidak hanya menjadi produk sirup seperti yang biasa ada dipasaran namun produk ini menawarkan suatu inovasi produk yang lain dari pada yang lain, selain sebagai sirup produk ini jga bermanfaat sebagai obat herbal, yang memiliki banyak khasiat dan kegunaan nutuk kesehatan.
            Adapun alasan lain yang membuat kami menyatakan bahwa prospek usaha ini sangat menjanjikan karena, masih terbatasnya produk serupa sehingga dapat memperkecil persaingan usaha.

·         Masalah dan kendala yang mungkin dihadapi
Adapun masalah dan kendala yang mungkin akan kami hadapi adalah,kurang optimalnya sistem pemasaran, kurang diminatinya produk kami di masyarakat, minimnya dana untuk modal usaha dan juga selera konsumen yang selalu berubah, oleh karena itu cara yang akan kami lakukan sebagai seorang calon wiraushawan adalah kami akan memperbaiki sistem produksi produk kami, dan juga kami akan membuat produk-produk olahan lain dengan bahan baku jahe,seperti selei jahe, manisan jahe, serbuk jahe, permen jahe, serta produk olahan jahe lainnya yang bisa lebih diterima oleh masyarakat dan yang terpenting adalah kami akan memperbaiki sistem pemasaran produk kami.

Rancangan Usaha Makanan Berbahan Dasar Jagung



Rancangan Usaha Makanan Berbahan Dasar Jagung
Oleh : Arifin Oputu
Mahasiswa Farmasi UNG 2012


I.         ANALISIS PEMASARAN

1.        Produk
Dengan melihat peluang pasar kedepan dan juga dengan mengandalkan potensi daerah Gorontalo, maka salah satu produk yang dapat dijadikan sebagai usaha adalah makanan bebahan dasar jagung. Dalam usaha ini akan dikembangkan berbagai produk yang telah ada yang berbahan dasar jagung dengan mengembangkan produk lain dari jagung, adapun produk yang akan dikembangkan ini akan menjadi produk yang menjadi unggulan dari usaha ini berupa cemilan yang dikombinasikan dengan jagung. Usaha dan produk yang akan dikembangkan ini tidak hanya mengutamakan harga, tetapi juga mengutamakan pelayanan dan mutu dari produk yang ditawarkan. Dalam produk yang ditawarkan ini akan diperhatikan nilai-nilai gizi didalamnya dan penggunaan bahan-bahan kimia berupa pengawet, pewarna dan pemberi rasa akan diminimalisir secermat mungkin agar tidak digunakan, karena akan menyebabkan gangguan kesehatan pada konsumen.

2.        Tempat
Untuk usaha yang akan dijalankan tentunya akan di tempatkan pada lokasi yang strategis berupa sebuah bangunan, yang dengan mudah dapat dijangkau oleh konsumen. Tempatnya berupa di pusat perkotaan dan daerah yang dekat dengan jalur transportasi antar kota dan antar daerah seperti dibandara. Sedangkan untuk produk yang ditawarkan selain dipasarkan dalam satu tempat usaha, juga akan didistribusikan ke warung-warung atau supermarket-supermarket yang menjadi mitra kerja.

3.        Harga
Untuk harga dari produk yang ditawarkan, akan diperhatikan persaingan dari harga yang berada dipasaran. Penentuan harga ini dikalkulasikan berdasarkan biaya produksi + keuntungan + dan tarif pajak yang berlaku. Agar dapat dijangkau oleh semua kalangan, maka harga yang ditawarkan akan diturunkan sekitar 5% dari harga yang beredar dipasaran. Hal ini tentunya akan sedikit menarik minat dari para konsumen dan juga dengan tujuan untuk memenangkan harga pasar. Untuk produk yang lebih diunggulkan harga jualnya akan sedikit dinaikan seiring dengan kualitas dari produk itu sendiri dan nilai gizi yang terkandung didalamnya.

4.        Promosi
Untuk mengenalkan usaha dan  produk ini kepada konsumen akan dilakukan promosi. Untuk promosi lewat tulisan akan dilakukan dengan menempel pamflet-pamflet atau baliho di pinggir jalan dan di tempat-tempat strategis yang dapat dilihat oleh orang banyak. Selain itu juga akan dimanfaatkan melalui media cetak yang terbit setiap harinya yakni berupa koran. Selain itu akan dilakukan juga promosi melalui media-media elektronik yakni pada radio dan tv. Tak hanya itu untuk promosi yang berskala nasiaonal atau internasional, akan dipromosikan melalui internet yakni dengan memanfaatkan situs-situs jejaring sosial dan situs e-business yang menawarkan pemasangan iklan secara gratis.



II.            ANALISIS OPERASIONAL

1.        Desain Produk
Dalam usaha ini akan akan dihasilkan produk yang berbahan dasar jagung, tentunya produk yang akan diproduksi ini, untuk mutu dan nilai gizinya akan selalu diperhatikan. Dalam hal rasa, karena berbahan dasar jagung tentunya akan dihasilkan juga rasa yang khas dari jagung. Untuk bentuk dari produk akan disesuaikan dengan minat dari konsumen sehingga dengan mudah dapat diterima. Dalam pendesaianan produk ini, akan diminimalisir secermat mungkin penggunaan bahan tambahan yang dapat menurunkan tingkat kesehatan dan keselamatan dari konsumen.
Produk yang akan ditawarkan pada usaha ini akan didesain sebagus mungkin agar dapat menarik minat dari masyarakat. Pengemasan ini tidak hanya ditujukan untuk mengemas saja, tetapi juga ditujuakan untuk menjaga kualitas dari produk yang ditawarkan. Pada kemasan produk nantinya akan didesain dengan warna dan ciri khas yang tentunya menggambarkan jagung sebagai bahan dasar dari produk dan sebagai potensi daerah gorontalo.

2.        Proses Produksi
Proses produksi untuk produk dalam usaha ini akan dijalankan sesuai proses produksi yang telah ada, mulai dari penyiapan bahan, pembuatan adonan sampai pada proses pengmasan. Kebersihan dari proses produksi mulai dari pemilihan bahan yang berkualitas sampai penggunaan alat yang steril tentunya akan selalu diperhatikan. Untuk menjamin tetap terjaganya nilai kebersihan dan kesehatan pada proses produksi, kami akan bekerja sama dengan lembaga kesehatan yang berperan dalam bidang pengawasan makanan yang dalam hal ini adalah badan POM. Hal ini ditujukan agar supaya adanya jaminan tentang kesehatan dalam produk yang ditawarkan sehingga layak untuk dipasarkan.


III.   ANALISIS PELUANG PASAR DAN PESAING

1.        Analisis SWOT
Ø  Kekuatan
1.        Harga yang ditawarkan jauh lebih murah dari harga produk yang sejenis yang beredar di pasaran.
2.        Dalam proses produksinya, selalu ada pengawasan dari badan POM sehingga layaknya produk ini dipasarkan selalu terjamin kesehatannya.
3.        Mutu dan Kualitas selalu diutamakan.
4.        Berbagai produk yang berbahan dasar jagung tersedia dalam satu tempat.
5.        Tersedia berbagai produk asli daerah Gorontalo yang nantinya dapat dijadikan ole-ole Gorontalo.
6.        Promosi yang dilakukan melalui berbagai media, baik cetak, elektronik dan Internet.

Ø  Kelemahan
1.        Produk yang ditawarkan semuanya hanya berbahan dasar jagung saja.
2.        Sebagian orang tidak selalu memperhatikan mutu dan kualitas suatu produk.
3.        Karena tanpa bahan pengawet, pemanis dan bahan tambahan lainnya maka beberapa kemungkinan yang dapat terjadi pada produk ini seperti tidak dapat bertahan dalam waktu yang lama, mudah ditumbuhi mikroba.

Ø  Peluang
1.        Minat masyarakat terhadap produk olahan jagung semakin meningkat.
2.        Daerah Gorontalo yang sedang berkembang dan dengan potensi jagung yang telah dikenal oleh banyak pihak, tentunya akan sering dikunjungi karena produk-produk olahan jagung.
3.        Promosi melalui Internet dapat meningkatkan konsumen.
4.        Satu-satunya usaha yang menawarkan produk yang seluruhnya berbahan dasar jagung.

Ø  Ancaman
1.        Munculnya pesaing baru dengan usaha dan produk sejenis yang ditawarkan ke konsumen.
2.        Bahan dasar jagung yang harganya tiba-tiba meningkat akan menyebabkan peningkatan pula pada harga jual produk.
3.        Banyaknya produk berbahan dasar jagung yang sering dijual dengan harga standar tanpa memperhatikan jaminan kesehatan.
4.        Konsumen yang mempunyai selera yang berbeda dengan produk yang ditawarkan.

2.        Prospek Usaha
Peluang pasar untuk produk yang berbahan dasar jagung ini sangatlah besar melihat budaya masyarakat yang konsumtif dan peluang pasar yang menjanjikan. Selain itu daya beli komsumen terhadap produk ini cukup bervariasi dari konsumen elite hingga konsumen menegah bawah. Produk ini dapat dikonsumsi oleh semua golongan karena harganya yang relatif terjangkau serta memiliki nilai kepuasan yang tinggi dan memperhatikan mutu dan kualitas dari produk itu sendiri.
Bebagai produk dari usaha ini nantinya akan sangat berguna bagi konsumen-konsumen yang mempunyai selera tersendiri teerhadap produk dari jagung, dimana konsumen dapat menikmati berbagai produk yang bebahan dasar jagung bukan hanya saja konsumen masyarakat gorontalo, tetapi juga bisa jadi mereka yang menyempatkan diri ke gorontalo. Untuk para wisatawan yang datang berkunjung ke gorontalo, produk ini dapat dikemas dalam satu produk ole-ole gorontalo.
Berbagai produk berbahan dasar jagung sudah disediakan dalam satu tempat usaha sehingga dapat memudahkan para konsumen dalam memilih berbagai macam produk yang diinginkan sesuai dengan seleranya masing-masing.

3.        Masalah dan Kendala
Adapun masalah dan kendala yang mungkin dihadapi adalah:
Ø  Masalah
Permasalahan yang saat ini beredar adalah dimana banyak terjadi pelonjakan-pelonjakan harga bahan-bahan pokok secara tiba-tiba yang dapat mengakibatkan peningkatan pada harga jual suatu produk yang ditawarkan. Sehingganya akan terjadi penurunan konsumen untuk produk ini dikarenankan konsumen lebih memilih produk yang harganya lebih murah yang mutu dan kualitasnya dibawah dibanding produk yang memilki mutu dan kualitas tinggi yang harganya lebih mahal. Tak hanya itu, masalah lain yang mungkin dihadapi adalah sulitnya mendapatkan tempat mendirikan bangunan untuk usaha di tempat-tempat yang strategis.

Ø  Kendala
Adapun kendala yang mungkin dihadapi untuk usaha ini adalah kurangnya modal yang cukup untuk meningkatkan produksi dalam skala besar. Juga dalam penyediaan alat-alat canggih yang digunakan untuk produksi harganya tergolong sangat mahal sehingga membutuhkan biaya yang besar untuk hal tersebut.

 

Klik Like Untuk Melanjutkan, Mohon Bantuannya Untuk Menyebarluaskan Artikel Ini

Powered By Riu Etsu Kazuo and Aku Anak Farmasi